Sami Miro, perancang yang dikenal lewat label vintage dan kiprah kuratorialnya, berbicara panjang tentang dampak lingkungan industri mode dan bagaimana konsumen bisa lebih sadar saat memilih pakaian. Sebagai pendiri Sami Miro Vintage dan creative director, ia menyampaikan bahwa keterbatasan justru menjadi bahan bakar kreativitas gaya.

Pada percakapan di sebuah episode podcast kecantikan, Miro menyorot perbedaan antara klaim “ramah lingkungan” yang samar—yang kerap berujung pada greenwashing—dengan praktik mode sirkular sejati yang memastikan pakaian tidak berakhir di tempat pembuangan akhir. Ia juga memperingatkan bahaya bahan tekstil tertentu bagi kesehatan kulit dan tubuh jika tidak dipahami dengan benar.
Sami Miro dan Awal Kisah Vintage
Kisah kecintaannya pada barang vintage bermula sejak sekolah menengah, ketika ia menemukan satu rak barang bekas yang dijual murah. Sebuah polo Lacoste berwarna ungu yang dipakai itu menjadi momen penentu. Miro mengisahkan bagaimana mengetahui dirinya memiliki satu artikel pakaian yang unik memberikan rasa percaya diri yang besar.
Pengalaman pribadi itu juga terkait dengan identitasnya: tumbuh sebagai wanita birasial di San Francisco, diasuh oleh ayah berdarah Perancis-Rusia setelah ibunya tidak hadir dalam perjalanannya. Kata-kata ayahnya—yang menyatakan bahwa perempuan kulit hitam adalah yang tercantik—menjadi penguat, namun Miro menilai kepercayaan dirinya baru benar-benar tumbuh saat ia menemukan dunia vintage.
Pandangan terhadap Industri Mode dan Sirkularitas
Miro menegaskan bahwa industri mode termasuk di antara tiga industri paling merusak di planet ini. Ia mengkritik klaim keberlanjutan yang kabur dan menekankan pentingnya desain sirkular: pendekatan yang memastikan siklus hidup pakaian dipikirkan sejak awal agar tidak berujung menjadi limbah.
Aturan praktis yang ia bagikan kepada konsumen adalah: pelajari bahan. Mengetahui komposisi kain membantu dalam menilai daya tahan, potensi bahaya kimiawi, dan jalur akhir kehidupan produk. Dalam perspektifnya, membeli pakaian cepat saji hanya dapat dianggap lebih sadar jika pembelinya benar-benar berniat menyimpan dan memakai barang itu selama puluhan tahun—ia mencontohkan standar ekstrem yaitu 20 tahun sebagai ukuran komitmen.
Isu Bahan, PFAS, dan Alternatif yang Lebih Aman
Miro mewanti-wanti soal zat perfluoroalkyl dan polyfluoroalkyl (PFAS), yang sering disebut “forever chemicals.” Ia mengutip penelitian awal yang menunjukkan bahan kimia tertentu pada tekstil dan perlakuan finishing kain dapat terserap lewat kulit dan masuk ke aliran darah. Hal ini membuat pemahaman tentang perlakuan dan komposisi kain menjadi hal yang krusial bagi konsumen.
Ia juga menyebut bahwa beberapa bahan sintetis, bahkan produk bertanda “vegan leather” atau bulu palsu, pada kenyataannya sarat dengan plastik. Sebagai alternatif, Miro menyarankan material yang dianggap lebih ramah lingkungan dan berpotensi lebih aman, seperti kapas organik, Tencel, bambu, serta bahan regeneratif yang muncul belakangan seperti kulit berbasis jamur.
Karya, Klien, dan Rutinitas Perawatan Diri
Selain kiprahnya di dunia vintage dan desain, Miro memiliki portofolio yang mencakup pakaian untuk penari Beyoncé, penampilan Lizzo, serta tim senam Olimpiade AS 2024. Ia pernah menjadi finalis sebuah kompetisi mode bergengsi dan terus menjalankan labelnya sambil menjadi figur kreatif yang banyak dicari.
Dalam segmen mengenai perawatan kulit, Miro menceritakan pengalaman menghadapi jerawat yang membaik drastis setelah dokter kulit meresepkan tretinoin; ia mengatakan perubahan terlihat dalam waktu kurang dari sebulan. Produk lain yang ia sebut sebagai bagian rutinitasnya termasuk tabir surya Kosas, krim blush Saie warna coral, dan stik blush Ilia. Mengenai tren kecantikan di Los Angeles, ia mengaku pernah terpikir melakukan filler bibir hanya sekali, lalu membatalkan niat tersebut.
Kreativitas, Batas, dan Teknologi
Satu prinsip penting yang dipegang Miro adalah bahwa keterbatasan memicu kreativitas. Ketika merek-merek mulai mengirimkan pakaian padanya, ia merasa kehilangan arah dan memilih mundur untuk menjadi lebih sengaja dan “scrappy” dalam pendekatannya. Ia juga menyentuh ketegangan antara memanfaatkan kecerdasan buatan sebagai alat kreatif dan mempertimbangkan dampak lingkungan dari teknologi baru.
Pesan utama yang mengemuka dari perbincangan Miro adalah ajakan agar konsumen lebih cermat: pelajari bahan, nilai klaim keberlanjutan dengan kritis, dan pikirkan siklus panjang sebuah busana sebelum memutuskan membeli. Baginya, gaya yang berkelanjutan berangkat dari niat dan pengetahuan, bukan sekadar label atau tren sementara.
