Saat musim kembali ke sekolah tiba, persiapan anak seringkali terfokus pada daftar buku, seragam, dan transportasi. Namun, kesiapan orang tua juga sama pentingnya: apa yang dilakukan orang tua terhadap anaknya sebelum bel sekolah berbunyi akan memengaruhi kemampuan anak untuk belajar, menyesuaikan diri, dan berkembang sepanjang tahun ajaran.

Lembaga yang menangani dukungan pengasuhan mengingatkan bahwa kesiapan kembali ke sekolah lebih dari sekadar perlengkapan. Orang tua disarankan memanfaatkan masa ini untuk ‘reset’—membuat struktur, komunikasi, dan dukungan yang membantu anak menghadapi tantangan tahun ajaran yang baru.
Sebelum bel sekolah: tetapkan tujuan pengasuhan
Banyak orang tua memulai tahun ajaran dengan target akademis untuk anak, seperti perbaikan nilai, membaca lebih banyak, atau menyelesaikan PR tepat waktu. Selain tujuan akademis tersebut, penting bagi orang tua menetapkan tujuan untuk diri sendiri. Misalnya, berjanji untuk mengadakan percakapan yang lebih bermakna tentang sekolah, rutin menghadiri pertemuan orang tua-guru, atau merespons kesalahan anak dengan lebih tenang.
Mengubah fokus dari sekadar mengharapkan prestasi menjadi menciptakan lingkungan yang mendukung akan membantu anak mencapai target akademisnya. Sebuah pertanyaan sederhana yang dapat diajukan orang tua adalah: apa yang akan saya lakukan berbeda tahun ini untuk membantu anak saya berhasil?
Kenali anak yang Anda kirimkan kembali ke sekolah
Anak bisa berubah signifikan saat liburan. Siswa yang percaya diri tahun lalu mungkin kini menghadapi kesulitan sosial. Anak yang sebelumnya termotivasi bisa merasa kewalahan oleh tuntutan akademis yang meningkat, dan remaja mungkin berurusan dengan tekanan teman sebaya atau perubahan pergaulan. Oleh karena itu, sebelum bel sekolah berbunyi, penting bagi orang tua menggali kondisi anak lebih jauh daripada sekadar menanyakan apakah mereka siap.
Ajukan pertanyaan yang membuka ruang curahan hati, seperti: Apa yang kamu nantikan? Apa yang kamu khawatirkan? Apa yang bisa membuat tahun ini lebih baik? Apakah ada yang kamu butuh dari aku? Jawaban-jawaban tersebut sering kali memberi petunjuk lebih besar tentang kebutuhan dan persiapan anak daripada daftar buku sekolah.
Tahu kapan harus turun tangan dan kapan memberi ruang
Keterlibatan orang tua bukan berarti menghapus semua kesulitan yang ditemui anak. Saat anak lupa tugas, berselisih dengan teman, atau kesulitan pada mata pelajaran tertentu, dorongan awal orang tua sering kali adalah memperbaiki masalah. Namun, tidak semua situasi membutuhkan intervensi penuh.
Beri anak kesempatan untuk memecahkan masalah sesuai usianya: berkomunikasi, membuat keputusan, dan merasakan konsekuensi yang wajar. Respon seperti, “Apa yang menurutmu bisa kamu lakukan?” dapat membantu anak berkembang kemampuan tanggung jawabnya. Keberhasilan di sekolah sejatinya juga harus melatih anak mengelola tanggung jawab dan bangkit dari kegagalan.
Bangun hubungan dengan sekolah sejak awal
Hubungan antara rumah dan sekolah penting dan seharusnya tidak hanya dimulai saat ada masalah. Kenali guru atau wali kelas anak, pahami cara sekolah menyampaikan informasi, baca pengumuman, dan usahakan hadir pada pertemuan ketika memungkinkan. Membangun hubungan yang kuat sejak awal membuat komunikasi lebih mudah dan mengurangi hambatan jika suatu saat diperlukan pembicaraan serius.
Memulai hubungan dengan catatan positif akan membantu mencegah situasi di mana kunjungan ke sekolah selalu identik dengan keluhan. Menjaga komunikasi yang konsisten dan konstruktif memberi anak rasa dukungan yang stabil selama tahun ajaran.
Masa kembali ke sekolah adalah kesempatan bagi anak untuk tumbuh — dan bagi orang tua untuk ikut berkembang. Menata tujuan pengasuhan, mengenali kondisi anak, memberi ruang untuk kemandirian, dan menjalin hubungan baik dengan pihak sekolah adalah langkah praktis yang bisa dilakukan sekarang agar proses belajar sepanjang tahun menjadi lebih lancar.
Bagi orang tua atau pengasuh yang mengalami tantangan terkait perilaku anak, komunikasi, atau penyesuaian dengan sekolah, dukungan tersedia. Anda dapat menghubungi lembaga dukungan pengasuhan melalui telepon di 876-967-7977, lewat email di [email protected], atau mengunjungi situs resmi lembaga untuk informasi lebih lanjut.
